SELAMAT WISUDA, SAHABAT ... - Bakul Kopi

Bakul Kopi

Hanya penjual kopi di pinggir kali yang berusaha memperbaiki diri

Friday, 25 October 2019

SELAMAT WISUDA, SAHABAT ...

Halo, Teman-teman ...
Malam ini aku enggak akan nulis tentang jalan-jalan atau review film horor. Ngomong-omong, malam ini aku memang enggak ada niat buat nulis apapun kok. Serius. Sekarang, pas lagi nulis ini, aku sebenernya udah mau tidur.

Tiba-tiba aku dibuat bahagia dengan kabar yang kuterima beberapa menit yang lalu di Whatsapp. Seketika rasa kantukku hilang. Syukri, salah seorang temanku semasa SMA hari ini resmi mendapat gelar Sarjana Teknik.
Kabar bahagia itu langsung aku sampaikan ke Ana, salah seorang teman SMA-ku yang saat ini tengah menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia.

Begitu baca pesan dariku, Ana langsung terkejut. Padahal Syukri baru masuk semester 7, tapi hari ini sudah resmi mendapat gelar sarjana. Apa ini yang dinamakan cumlaude? 

Ternyata, Ana juga memberitahuku kalau Januari besok dia sudah wisuda. Hanya 3,5 tahun dia menyelesaikan pendidikannya di UI. Kurasa itu keren banget.
Oh iya, mungkin kalian bertanya-tanya siapa sih Ana dan Syukri itu? Baiklah ... aku ingin bercerita kepada kalian. Aku ingin kalian juga ikut merasakan bahagiaku malam ini. Hehe.

Perkenalkan dulu ... aku (Lutfi), Nurani Fitriana (Ana), dan Syukri (M Syukri Abdul Jalil) adalah alumni dari Madrasah 'Aliyah Negeri (MAN) 1 Jombang. Kami bertiga dulu berasal dari jurusan IPA. Hanya saja, kami tak pernah sekelas.

Aku mulai mengenal Syukri sejak kelas X. Waktu itu, aku dan Syukri masuk dalam kategori tiga siswa terbaik seangkatan di kelas masing-masing. Sejak saat itu, aku mulai mengenal Syukri.

Beberapa waktu kemudian, sekolah kami mengadakan olimpiade. Syukri maju sebagai salah satu pemenang di bidang fisika. Aku maju sebagai salah satu pemenang di bidang matematika. Sedangkan di bidang kimia, kulihat seorang perempuan yang juga masih kelas X maju menjadi salah satu pemenang.

Para pemenang olimpiade tadi, kemudian diberikan bimbingan intensif oleh pihak sekolah setiap pekan. Tujuannya agar bisa mendapat hasil yang terbaik ketika ikut olimpiade di luar sekolah. Entah itu antar SMA se-Jombang, se-provinsi, nasional, atau bahkan internasional.

Dari bimbingan intensif itulah, aku kemudian jadi dekat dengan Syukri dan salah satu pemenang kimia tadi. Ternyata namanya adalah Ana. Kami sering berdiskusi tentang mata pelajaran. Aku lebih mudah menerima materi dari mereka ketimbang yang disampaikan guru di kelas.

Kimia adalah salah satu pelajaran yang paling tak aku sukai selama sekolah. Tapi Ana membuatku jadi paham meskipun sudah detik-detik akhir sekolah. Begitupun dengan fisika, aku lebih senang belajar kepada Syukri. Ana dan Syukri, meski mereka sangat pintar, tapi tak jarang bertanya matematika kepadaku. Hehe, di saat begitulah aku merasa menjadi guru dari guruku sendiri.

Setelah Ujian Nasional kelas XII ...
Pendaftaran kuliah sudah di depan mata. Untuk menghadapi tes masuk kuliah, jadwal diskusi kami pun kami tambah. Hampir setiap pulang sekolah, kami menyempatkan waktu di gazebo sekolah untuk belajar.

Ada namanya SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Ini adalah jalur undangan untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Sayangnya, kami bertiga gagal lolos ke kampus impian lewat seleksi ini. 

Kami kemudian mencoba untuk daftar SIMAK-UI (tes masuk Universitas Indonesia). Tapi ternyata sebelum SIMAK UI dilaksanakan, pengumuman SPAN PTKIN keluar. Aku dinyatakan lolos ke jurusan Pendidikan Fisika di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Ana dan Syukri masih gagal lolos di tahap ini.

Selain mencoba SIMAK-UI, Ana dan Syukri juga ikut SBMPTN. SBMPTN adalah tes tulis untuk masuk ke PTN yang dilaksanakan secara bersama se-Indonesia. Selain SBMPTN, Ana juga mencoba tes UM-PTKIN, yaitu tes untuk masuk ke Perguruan Tinggi Islam Negeri. Banyak banget, kan? Mereka masih sibuk belajar mempersiapkan tes ketika aku sudah sibuk menyiapkan berkas daftar ulang.

Beberapa pekan kemudian, mereka mengirimiku kabar yang sangat membahagiakan. Ana dinyatakan lolos di 3 tempat sekaligus, (1) jurusan Kimia ITS, (2) jurusan Pendidikan Kimia UIN Walisongo, dan (3) jurusan Kimia Universitas Indonesia. Dari ketiga itu, dia memilih UI untuk menjadi tempat belajarnya beberapa tahun ke depan.

Syukri yang pandai fisika juga lolos di 2 tempat sekaligus, (1) jurusan teknik elektro Universitas Brawijaya dan (2) teknik perkapalan Universitas Indonesia. Seteleh berpikir panjang, dia akhirnya mantap memilih jurusan teknik elektro Universitas Brawijaya.

Januari 2017
Kuliah yang ada di bayanganku dengan apa yang aku alami ternyata sangat berbeda. Yang ada di bayanganku, kuliah itu enak, seru, romantis. Ternyata tidak. Baiklah ... aku akhirnya memutuskan untuk kabur dari bangku perkuliahan.

2,5 tahun kemudian ...
Aku tak pernah merasa kecewa dengan keputusanku untuk meninggalkan kuliah. Memang aku sempat merasa gengsi dengan teman-teman seangkatanku yang kuliah. Tapi, buat apa juga gengsi? Enggak ada gunanya kan ya? hehe.

Sekarang, aku merasa sangat bahagia ketika mendengar Syukri dan Ana akan wisuda. Karena bagiku, wisudanya mereka adalah wisudaku juga :)


___________________
Bogor, 25 Oktober 2019
Maaf apabila tulisan ini tidak berfaedah. Hehe.

14 comments:

Pages