MENIKMATI KEINDAHAN DI TENGAH BELANTARA HUTAN - Bakul Kopi

Bakul Kopi

Hanya penjual kopi di pinggir kali yang berusaha memperbaiki diri

Monday, 1 October 2018

MENIKMATI KEINDAHAN DI TENGAH BELANTARA HUTAN

Dokumen pribadi


Bulan September 2016 begitu indah. Siang itu, ketika aku sedang belajar membuat kopi dengan takaran yang pas menggunakan gelas yang lebih besar dari biasanya, tiba-tiba rombongan teman-teman alumni SMA-ku berkunjung ke rumah.

Seperti biasa, mereka pasti ingin mengajakku untuk klinong-klinong (Bahasa anak Jombang-an yang artinya jalan-jalan). Seketika itu pula kami mengatur rencana untuk melakukan traveling ke Kedung Cinet.

Kedung Cinet merupakan tempat wisata yang sedang hits di Jombang. Letaknya di kecamatan Plandaan. Berada di tengah belantara hutan yang bisa dibilang cukup menyeramkan, apalagi ketika malam hari. 

Meski berada di tempat yang pelosok, Kedung Cinet tak pernah sepi dari pengunjung. 

Adegan berbahaya. Jangan ditiru!

Kecamatan Plandaan berada di paling utara kabupaten Jombang. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Nganjuk, Bojonegoro, dan Lamongan. Dari pusat Jombang, butuh waktu sekitar 20-30 menit  untuk sampai ke Plandaan. 

Dari rumahku sendiri, menuju Kedung Cinet dibutuhkan waktu hampir 30 menit juga. Rumahku berada di tepi Sungai Brantas. Berjarak sekitar delapan kilometer dari wisata indah itu.

Kami awali perjalanan menuju Kantor Polsek Plandaan terlebih dahulu. Tepat di sebelah Polsek, ada pertigaan. Arah barat menuju Kedung Cinet. Dari pertigaan tersebut, kami melewati dua desa. Desa pertama adalah Bangsri. Desa kedua, Pelabuhan. Setelah itu, baru masuk ke desa Pojokklitih yang merupakan tempat Kedung Cinet berada.

Hutan lebat setelah desa Pelabuhan menandakan bahwa desa Pojokklitih semakin dekat. Aku sangat bersyukur masih bisa merasakan keindahan alam Indonesia.

Setelah melewati hutan tersebut, kami menemukan sebuah desa yang sangat damai. Ya, benar ... desa itu bernama Pojokklitih. Konon katanya, listrik baru masuk belum lama ini. Bahkan di beberapa desa setelah Pojokklitih, masih banyak desa di kecamatan Plandaan yang belum kemasukan listrik.

Masyarakat yang ramah menyambut kedatangan kami hari itu. Mayoritas rumah di Pojokklitih terbuat dari kayu dan anyaman bambu. Di perjalanan, kami banyak menemui wanita-wanita yang baru saja pulang mandi dari Kedung. Kedung bisa diartikan sebagai danau atau telaga. Jadi, Kedung Cinet bisa diartikan telaga yang berada di Cinet.

Setelah melewati rumah penduduk, kami disambut hangat oleh sebuah jembatan layang yang cukup indah. Ketika dilewati, maka suara khas jembatan itu akan terdengar. Belum lagi, jika angin datang. Sudah pasti suaranya akan semakin kencang. Beberapa orang mungkin ketakutan, namun beberapanya lagi menganggap suara itu sebuah kenikmatan.

Dokumen Pribadi

Jembatan itu hanya cukup dilewati satu motor saja. Jika ada motor dari depan, maka salah satunya harus mengalah.

Setelah melewati jembatan itu, kami disambut hangat lagi oleh hutan. Lagi-lagi, jalanannya tak terawat. Jika musim penghujan, sepatu akan tenggelam dalam tanah lumpur.

Dokumen Pribadi

Kedung Cinet berada di bawah jalan yang kami lewati. Maka jika tak melihat ke bawah, bisa-bisa akan terlewat.

Dokumen Pribadi

Begitu aku melihat ke bawah, alam yang hijau bersih, indah, dan sejuk, terpancar. Seakan mengajakku untuk mensyukuri ciptaan-Nya. Masya Allah!!! aku tak perlu pergi ke luar negeri untuk menikmati keindahan alam, karena negeriku sendiri sudah sangat indah.

Salah satu yang membuat Kedung Cinet selalu ramai adalah karena bebatuan kapur yang ada di sana cukup indah. Instagramable banget kok.

Orang menyebut Kedung Cinet sebagai Grand Canyon-nya Jombang.

Makin lama, Kedung Cinet makin mengalami perawatan dengan baik. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, Kedung Cinet tak terawat. Banyak sekali dedaunan kering di dalam air. Membut ekosistem di dalamnya tak berjalan sebagaimana mestinya.

Setelah masuk waktu solat zuhur, kami pun menuju ke musala yang berada di tengah perkampungan warga. Musala itu terbuat dari kayu. Tempat wudu hanya ada satu. Jika beruntung, airnya akan keluar. Jika tidak, maka harus meminta ke warga.

Sungguh, berkunjung ke Kedung Cinet, berasa berkunjung ke luar negeri. Keindahan yang ditawarkan, membuat diri ini lebih mensyukuri nikmat Tuhan yang tiada tara. Walau demikian, suasana tradisional memang masih melekat erat di sana. 

20 comments:

  1. Jadi Kedung Cinet artinya apa?

    ReplyDelete
  2. Kolamnya untuk mancing? Atau bisa untuk latihan renang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa dua2nya :D tinggal pilih mau yg mana

      Delete
    2. Jangan dua-duanya kak, seremmm 😂

      Delete
    3. Yang penting bahagia :D

      Delete
  3. Replies
    1. Kapan-kapan ya setelah nonton Munafik 2 👀

      Delete
  4. Mau juga dong diajak jalan-jalan ke Jombang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh aja sih ... tapi entar ya Kak Isna, nunggu semua harga tiket ke Jombang gratis ..

      Delete
  5. Enak dibacanya, mengalir, sudah layak lah jadi travel blogger profesional. Jadi pengen berkunjung, selama ini tahu Jombang karena pesantrennya yang terkenal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kapan-kapan deh kalau ada promo tiket beli 1 gratis 5, saya beliin tiket ya mbak

      Delete
  6. Bagus tulisannya. Catat semua perjalanmu cak Lutfi, jadi travel blogger beneran ..😁

    ReplyDelete
  7. Asyik...keren kayaknya kedung cinet

    ReplyDelete
    Replies
    1. he em. Lebih kerenan lagi kalau pakai hijab

      Delete
  8. Wah asyik tuh klinong2 dan foto di jembatan. Jembatannya instagramable bro hehe

    ReplyDelete
  9. Ajak temen-temen odop wisata ke jombang ka 😂

    ReplyDelete

Pages