KEMBALI BERKUMPUL DENGAN PECINTA SHOLAWAT - Bakul Kopi

Bakul Kopi

Hanya penjual kopi di pinggir kali yang berusaha memperbaiki diri

Sunday, 25 February 2018

KEMBALI BERKUMPUL DENGAN PECINTA SHOLAWAT

Dokumen Pribadi

Akhir-akhir ini, pikiranku diselimuti rasa bimbang. Bukan tentang asmara atau keluarga, tapi masalah kehidupanku di Bogor. Entah, sudah berminggu-minggu lamanya aku merasakan sesuatu yang tidak nyaman.

"Kamu bosan disini, ya?"

"Sepertinya begitu."

Sebenarnya aku ingin mengatasi kebimbangan itu, menghilangkannya agar apa yang aku lakukan ke depannya menjadi lancar. Tapi, bagaimana mau aku atasi kalau penyebabnya saja aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja bimbang, bosan, melelahkan.

Sepertinya, semua ini karena aku rindu dengan kehidupanku yang dulu. Kehidupan selama di Jombang maupun Semarang.

Ketika tinggal di Semarang, semua terasa indah dan asyik. Kebersamaan, kemandirian, kekeluargaan, semua kudapatkan saat di sana.

Ketika tinggal di Jombang, semua terasa begitu indah dan sederhana. Warna NU bertebaran dimana-mana. Suasana kampung begitu terasa.

Jujur, selama aku tinggal di Bogor, hal yang paling membuat rindu adalah ketika bersholawat bersama teman-teman, tentunya teman-teman di Jombang. 

"Kak, nanti lihat sholawatan di lapangan Pabuaran, ya." Bocah-bocah datang ke rumah saat sore tadi. Membangunkan diriku, yang tanpa sengaja terlelap setelah asar. Tentu aku sangat senang mendengar ajakan itu, walaupun di lain sisi, aku harus bertanggung jawab terhadap mereka yang masih kecil.

"Kalian berangkat saja dulu, nanti kakak nyusul," kataku.

Setelah isya, bocah-bocah perumahan berangkat ke lokasi. Aku berangkat hanya berdua dengan Udin, teman asrama.

Setibanya disana, tiba-tiba ada banyak pesan masuk ke whatsapp pribadiku. Isinya sama semua, mereka menitipkan anaknya kepadaku. Padahal, aku tidak bersama mereka.

Aku sangat senang bisa menghadiri acara sholawatan itu. Seakan-akan kembali pulang ke Jombang, walaupun di lain sisi, aku harus menjaga bocah-bocah perumahan yang bahkan, aku tidak tahu dimana mereka.

"Warga sini ya, Mas?" tanya seorang hadirin disana.

"Iya," kujawab dengan senyum, "saya Lutfi." Aku menjabat tangannya.

"Suka sholawat, Mas?" tanyanya.

"Tidak terlalu sih. Ini karena kangen saja pengen dengerin."

Mataku terus mencari keberadaan anak-anak perumahan di antara ribuan orang yang hadir. Tapi hasilnya pun nihil, tidak ketemu. Barangkali mereka sudah pulang.

Senang sekali karena aku bisa bertemu dengan orang-orang yang juga sama-sama mencintai selawat. Kan, lain kali, kalau ada acara yang sama bisa berangkat bareng.

Berkat acara itu, aku seperti menemukan satu alasan agar tetap bisa bertahan disini. Alasan yang selama ini masih aku cari.

Semoga Allah memberi alasan lain kepadaku untuk tetap yakin tinggal disini. Sejujurnya, aku sangat bosan. 

2 comments:

Pages