Ketidakseruanku di Malam Minggu - Bakul Kopi

Bakul Kopi

Hanya penjual kopi di pinggir kali yang berusaha memperbaiki diri

Sunday, 24 December 2017

Ketidakseruanku di Malam Minggu



Aku tidak ingin menulis sesuatu yang spesial hari ini. Bukan karena tidak bisa berfikir atau malas, tapi justru keduanya.

Ini adalah sebuah cerita yang kualami di malam minggu tadi. Malam minggu yang beberapa hari lalu kurencanakan istimewa.

Sejak sabtu pagi kemarin aku telah mempersiapkan kepulanganku ke Jombang. Selesai sudah semua program selama setahun di Rumah Muda.

Baju, buku, dan peralatan lain kumasukkan ke dalam tas. Lengkap sudah kurasa. Pukul 2 siang aku berangkat ke Terminal Baranangsiang bersama dua temanku, Zayd dan Mas Ton yang juga berdarah Jawa.

"Ayo pesan grab saja, Lut," seru Mas Ton.

Segera kupesan mobil untuk keberangkatan kami ke terminal. Aku adalah siswa di Rumah Muda yang paling muda, sehingga semua yang diperintah kepadaku dari yang lain pasti akan kulakukan.

"Mahal, Mas Ton. Rp79.000," kataku.

"Ambil saja."

Lama sekali kami menunggu mobil pesanan tadi, hampir setengah jam. Karena tidak ada respon dari dia, akhirnya aku cancel dan pesan yang lain dengan harga yang ternyata lebih tinggi.

Aku lupa, sepertinya pukul 16.30 kami sampai di terminal.

"Bis berangkat setengah jam lagi," kata Mas Ton.

Kami berlari menuju loket pembayaran.

"Maaf mas, keberangkatan ke Pekalongan penuh."

Aku memang berencana ke Pekalongan. Berniat untuk saling kenal dengan keluarga teman-temanku, Zayd dan Mas Ton.

"Sial!" Gerutuku.

"Hari ini cuma sisa di balkon belakang saja. Mau?" ujar penjaga loket.

"Ya sudah kami ambil saja mbak."

Bagiku biarlah duduk di balkon belakang, asalkan sampai ke tempat tujuan dengan selamat.

Setelah dilihat, ternyata balkon bagian belakang bis telah penuh dengan tas. Kecewa, marah, lengkap sudah.

"Mas Ton, coba tanya kapan lagi ada yang kosong."

Mas Ton segera berlari menuju agen pelayanan bis yang terletak di bagian atas terminal. Kisaran dia kembali dengan kabar yang menyenangkan.

"Besok pagi, jam setengah tujuh ada tiga kursi kosong." Teriak Mas Ton dari jarak yang masih jauh dari kami.

"Jadi malam ini tidur dimana kita? Masjid tutup." Tanya Zayd.

"Sudah, duduk saja disini."

Malam minggu, aku baru sadar kalau malam minggu. Kuhabiskan malam itu bersama kedua teman seperjuanganku di sebuah tangga kumuh dan sepi terminal Baranangsiang.

Tikus tontong, kadang dia tiba-tiba datang menakuti kami. Tidak ada listrik yang menyala, jaringan internet pun sangat terbatas.

Sebuah kursi kecil di pojok tangga, disana Zayd tidur. Sedangkan Mas Ton mencari tempat yang cukup luas untuk merebahkan tubuhnya, entah dimana. Katanya, yang penting kering dan aman untuk tidur.

Di atas sebuah kursi warung yang pada salah satu kakinya terikat rantai, disanalah kemudian Mas Ton terlelap.

Aku tidak tega memejamkan mata. Semua uang dan benda berharga dalam keadaan terancam kalau aku tinggal bermimpi.

"Tidur, Lut. Besok setengah tujuh kita berangkat. " Kata Zayd yang tiba-tiba saja terbangun.

Aku menggelengkan kepala sambil melihat tumpukan tas kami. Kurasa dia tahu maksudku.

"Besok saja aku tidur seharian di bis. Malam ini mau jaga barang kita dulu." Ujarku.

***

Pagi, pukul enam kami menuju loket pemesanan bis.

"Sial, masih tutup!"

"Mau naik Sinar Jaya, mas?" Tanya seseorang yang ingin membuka pintu loket kepada kami. "Sudah penuh untuk hari ini. Sore nanti jam lima baru ada yang kosong." Lanjutnya.

Lagi-lagi kami kehabisan tiket bis. Sebuah pelajaran berharga bagi kami untuk selanjutnya. Bahwa untuk mendapatkan sesuatu, harus diperkirakan di waktu sebelumnya. Semua tidak instan begitu saja. Karena sukses juga antri, siapa cepat dia dapat.

Sampai tulisan ini aku buat, belum ada kabar yang jelas apakah nanti akan benar-benar berangkat atau justru ditunda lagi karena penuh. Semoga saja masih ada yang kosong, karena sudah seharian menunggu. Jangan sampai tidur dengan tikus lagi malam nanti.

8 comments:

  1. Mas aku pinjemin jet mau? hehe

    ReplyDelete
  2. Semoga dapet tiket mas 🚃🚃🚃

    ReplyDelete
  3. kenapa gak balik dulu ke asrama rumah muda sayang....
    pesan tiketnya jangan dadakan dong say....

    ReplyDelete
  4. Cie paling muda..
    Semangaaaat Lutfi..
    Salam untuk maston

    ReplyDelete
  5. Saya doain aja yaa, semoga segera dapat tiket bis, hehehe aamiin, yg plg muda kudu plg semangat hihi

    ReplyDelete
  6. ceritakan perjalanan berikutnya sampai dapat tiket bis dan pulang, Yan

    ReplyDelete

Pages