Jombang dan Jejak Keringatku yang Telah Kering - Bakul Kopi

Bakul Kopi

Hanya penjual kopi di pinggir kali yang berusaha memperbaiki diri

Monday, 25 September 2017

Jombang dan Jejak Keringatku yang Telah Kering

Sumber : Google

Hanya sebuah tandon air besar dengan pohon beringin di sampingnya. Sederhana memang ikon kota kelahiranku ini. Tapi dari kesederhanaan itulah selalu datang nikmat yang begitu luar biasanya.

Jombang memang bukanlah sebuah kota yang megah dan mewah. Kurasa anggapan bahwa Jawa merupakan pulau yang sangat maju di Indonesia perlu diralat sedikit. Buktinya aku hidup di lingkungan ternak-ternak yang terapung di atas aliran kali brantas.

Suasana desa di Jombangku kurasa seperti nuansa kehidupan dalam coretan sang novelis Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Setiap pagi untuk pergi ke sekolah kami harus mengayuh sepeda agar bisa sampai disana. Desaku menuju ke pusat kota Jombang berjarak setidaknya 15 km. Dan waktu untuk sampai sendiri sekitar satu jam. Tak semua anak di desaku menjalani hal seperti itu. Karena kurasa sudah sebagian besar dari kami yang lebih memilih naik motor.

Hampir setiap pagi kami berangkat bersama-sama. Biasanya mereka berkumpul di rumahku. Paling siang kami berangkat pukul 05.30 pagi dari rumah. Setidaknya ada sekitar 5 anak yang setiap pagi bersama-sama meraih mimpi dengan mengayuh sepeda. Kami tidak ada yang satu sekolah. Kurasa mungkin aku diantara mereka yang bernasib paling baik. Di desaku, anak yang bisa sekolah negeri di pusat kota itu sudah dianggap istimewa. Sebenarnya kami berlima dulu mendaftar di satu sekolah yang sama. Tetapi nasib mungkin sedang berpihak kepadaku saat itu, sehingga cuma aku yang diterima.

Tak ada rasa malu bagi kami berangkat bersepeda dari desa ke keramaian kota. Walaupun tak jarang teman-teman satu sekolah kami lewat dengan mengendarai motornya kencang. Sekolahku yang paling jauh diantara teman-teman ku tadi. Sehingga pada akhirnya aku sendirian. Sekitar 2 km aku sendiri bersepeda. Terkadang lewat teman satu sekolahku untuk membantuku mendorong dari belakang.

Aku sering sekali datang telat ke sekolah. Disana aku dicap sebagai siswa yang selalu datang sekolah paling siang. Padahal mereka tak tau jam berapa aku berangkat dari rumah. Kalau waktu menempuh perjalanan hanya 10 menit, tentu mungkin aku yang paling duluan sampai di sekolah.

***

Saat ini aku hanya bisa mengenang masa-masa itu. Kadang aku sendiri sedih jika mengingat kisahku sendiri itu. Hanya demi menuntut ilmu, aku rela menghambur-hamburkan keringatku di jalanan. Dari situlah aku belajar akan kesederhanaan. Entah otakku saja yang berbeda dengan orang lain, saat ini banyak sekali orang yang tidak bisa membedakan antara "Sederhana" dengan "Kampungan".

4 comments:

  1. waahh perjuangan banget ya bang, jadi inget cerita mamak dulu kalau sekolah juga harus jalan jauh banget..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas :') kalo ngingat masa muda emang selalu ada kenangan ya

      Delete
  2. Sepertinya harus ditambah tol disana ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. percuma ada tol kalo masih make sepeda gayuh :v

      Delete

Pages