RUMAH MUDA ITU APA, SIH? - Bakul Kopi

Bakul Kopi

Hanya penjual kopi di pinggir kali yang berusaha memperbaiki diri

Thursday, 30 August 2018

RUMAH MUDA ITU APA, SIH?

Kok gambarnya kopi, sih? Kan nggak sesuai sama judulnya! 
Gapapa deh, ini menggambarkan tentang saya, 'Bakul Kopi'.



"Alhamdulillah, akhirnya selesai sudah menjalani rutinitas sehari-hari yang menyenangkan ini."

-oo0oo-
Sehari yang lalu, ketua One Day One Post resmi membuka pembelajaran ODOP Batch 6 dengan materi 'Sejarah Komunitas One Day One Post'. Dalam kesempatan itu, dia menceritakan banyak hal tentang ODOP. Salah satunya adalah pendiri komunitas ini. Namanya Bang Syaiha. Dijelaskan olehnya bahwa Bang Syaiha adalah salah seorang pengajar di Rumah Muda Indonesia. Lalu ada yang bertanya:
"Rumah Muda Indonesia itu apa, sih?"

Baiklah, saya sebagai salah satu siswa di lembaga sosial tersebut akan mencoba menjelaskannya.

Rumah Muda Indonesia adalah sebuah lembaga pendidikan nonformal yang berada di sebuah daerah di Kabupaten Bogor. Resmi dibuka pada awal tahun 2017 dengan jumlah peserta mencapai tujuh orang, termasuk saya. 

Tujuan dibentuknya lembaga pendidikan tersebut adalah untuk membina remaja-remaja yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat lanjut atau mereka yang hidupnya di jalanan. Intinya adalah remaja yang kondisi ekonominya menengah ke bawah. Saya sebagai seorang penjual kopi yang sempat terputus kuliah pun akhirnya tertarik bergabung setelah membaca lebih detail mengenai program yang sangat keren ini.

Sekeren apa sih program di Rumah Muda?

Bagi saya, Rumah Muda itu bukan hanya lembaga pendidikan sosial. Dia lebih dari pada itu. Ada pendidikan kehidupan yang saya dapat dari sana.

Program wajib di Rumah Muda ini dilaksanakan selama setahun. Tiga bulan pertama, kami disuruh untuk menghafal quran minimal tiga juz. Kebayang nggak sih seorang penjual kopi yang tinggalnya di pinggir kali, jarang megang quran, jauh dari masjid, disuruh menghafal quran?

Jujur, awalnya saya merasa kesusahan. Lha wong biasa megang adukan kopi kok disuruh megang quran.

Namun kesusahan yang saya alami hanya berjalan sebentar. Lingkungan di Rumah Muda sangat mendukung saya untuk banyak belajar agama. Dua dari tujuh teman yang sama-sama belajar di Rumah Muda adalah alumni pesantren. Mereka membuat saya menjadi lebih baik.

Kalau kita mendekati penjual parfum, maka kita akan tertular bau parfumnya. Kalau mendekati bau bensin, maka akan tertular bau bensinnya. Kalau lama-lama jadi penjual kopi, maka aroma kopi tidak akan hilang dari kita. Melekat. Bahkan sifat para pecinta kopi yang rata-rata anak jalanan pun akan menular ke kita. Betul, bukan?

Masuk bulan keempat, kami mulai diajari bisnis yang bagi saya  sangat susah. Apalagi saya belum pernah megang laptop sebelumnya. Kalau dapat tugas sekolah saja, saya harus mancal sepeda sepuluh kilometer biar dapat pinjaman. Di desa saya, hanya sedikit yang punya laptop.

Oh ya, kami juga ditugaskan untuk meramaikan lingkungan di sekitar asrama. Mengajar anak-anak kecil, menghidupkan perpustakaan, dan menjaga masjid.

Tepat pada awal Agustus kemarin, Rumah Muda telah memulai angkatan keduanya yang kemudian berubah nama menjadi Pesantren Bisnis Orenz. Jumlah santri yang terdaftar sudah delapan orang.

Bismillah, semoga kami bisa istiqomah dalam merintis pesantren kecil ini. Aamiin.

Untuk penjelasan lebih detailnya, kalian bisa lihat video Rumah Muda di link ini: https://youtu.be/NWqlH6mxEKk (Jangan lupa subscribe juga)






Bogor, 30 Agustus 2018.

8 comments:

Pages