BELAJAR IKHLAS DAN SABAR SETELAH KENA TIPU DUA KALI - Bakul Kopi

Bakul Kopi

Hanya penjual kopi di pinggir kali yang berusaha memperbaiki diri

Saturday, 14 July 2018

BELAJAR IKHLAS DAN SABAR SETELAH KENA TIPU DUA KALI

Sumber: google
Alhamdulillah, di usia yang belum berkepala dua ini, aku telah dua kali menjadi korban penipuan uang. Kejadian pertama terjadi pada pertengahan tahun 2017. Saat itu hal yang kuimpikan adalah bisa membelikan HP android untuk adik bungsu. Bukan ingin membuatnya menjadi malas. Namun berharap agar dia bahagia seperti teman-teman seumurannya. Nantinya pun, rencananya, di android yang baru akan diisi murrotal agar dia bisa belajar sekaligus menghafal surat-surat pendek Alquran. Langsung saja, uang hasil berkelana di Bogor pun aku kumpulkan demi memenuhi impian kecil itu. Kekurangannya, aku carikan dengan meminjam uang kesana kemari. Mulai dari teman MTs hingga MA (sederajat SMA). Begitu uang terkumpul, tanpa pikir panjang, aku pun membuka grup facebook JUAL BELI HP yang lokasinya di Jombang. Perhatian tertuju pada sebuah kiriman dari salah satu akun facebook di sana. Dia menjual iphone 4 dengan harga di bawah rata-rata. Singkat cerita, aku kemudian mencatat nomornya agar lebih mudah dalam menghubungi. Dia ramah. Pada setiap percakapan, selalu ada emotikon senyum darinya. Aku hanya berpikir kalau dia sudah terbiasa berjualan online. Karena itu, aku yakin kalau dia psati menjual dengan baik. Tanpa curiga, uang sejumlah harga HP yang telah kami sepakati langsung kutransfer kepadanya. Karena posisiku berada di Bogor, maka aku memintanya untuk mengantar ke alamat rumahku yang berada di Jombang. Tak berselang lama, si penjual yang ramah tadi menghubungiku melalui Whatsapp. Katanya, HP yang telah kupesan dan bayar, sudah laku dibeli orang dengan harga yang lebih tinggi! Padahal, sebelumnya dia bilang, HP masih belum laku. Dengan perasaan kecewa dan mangkel, aku meminta agar uang yang telah kutransfer dikembalikan olehnya. Lucunya, dia malah bilang kalau uangnya belum masuk. Bodohnya, aku lupa tidak mengirim bukti transfer kepadanya. Sialnya lagi, bukti transfernya malah aku buang. Dan lebih parahnya lagi, kontak Whatsappku diblokir olehnya. Yang semakin membuatku makin kesal, pertemanan kami di facebook diblokir olehnya. Beberapa hari kemudian, aku bertanya kepada temanku yang berprofesi sebagai polisi. "Apakah kasus seperti ini bisa dilanjutkan ke jalur hukum?" tanyaku. "Tentu bisa. Tapi kamu harus ada bukti yang menyatakan bahwa pernah terjadi transfer uang dengan jumlah tersebut," jawabnya. Karena tidak ada bukti transfer, akhirnya aku pergi ke bank untuk meminta riwayat transaksi pada ATM milikku. Sayang sekali, ATM yang aku gunakan untuk transfer malah hilang. Mungkin memang Allah ingin mengingatkan diri ini agar lebih bersyukur. Aku sempat bertanya ke beberapa grup tentang cara mengurus ATM yang hilang. Salah satunya adalah grup One Day One Post. Kata mereka, harus mengurus ke bank cabang pembuatan ATM, yakni di Jombang. Daripada harus pulang, pesan tiket lama, maka satu-satunya yang harus kulakukan adalah ikhlas. Mungkin uang yang telah kutransfer tersebut adalah rezeki untuk si penjual tersebut. Kejadian kedua baru terjadi pada awal tahun kemarin. Untuk yang ini, aku bahkan masih belum berani menggolongkan ke dalam kategori penipuan. Pasalnya, dia adalah kakak kelasku sendiri semasa SMA. Aku mengenalnya sebagai siswi yang baik, pintar, dan berprestasi. Pagi itu, pada awal tahun 2018, tiba-tiba saja dia menghubungiku melalui facebook. Katanya, ada kebutuhan yang tidak bisa diselesaikan olehnya sendiri. Langsung saja, dia mengatakan bahwa sedang membutuhkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit. Sebenarnya, tidak semua dipinjamnya dariku. Namun karena merasa kasihan, akhirnya aku menawarkan untuk meminjami semuanya. Langsung saja, dia memberi nomor rekening agar segera kutransfer. Dua bulan telah berlalu. Aku bahkan sampai lupa kalau sempat meminjami kakak kelasku yang cantik ini uang. Tiba-tiba, sebut saja dia Mbak Mawar, menghubungi diriku. Dia minta maaf karena masih belum bisa mengganti uang. Kata dia, uangnya sudah ada, tapi selalu saja ada kegiatan mendesak saat punya niatan pergi ke mesin ATM. Setiap Minggu, dia menghubungi diriku. Selalu saja dikatakan olehnya bahwa uangnya sudah ada, tapi masih belum ada waktu untuk ke mesin ATM. Kemudian aku berpikir sesibuk apa sih Mbak Mawar ini??? Untuk pertama kalinya, menjelang mudik lebaran, aku memberanikan diri untuk menagih hutang Mbak Mawar ini. Dari puluhan pesan yang kukirim, tidak ada satu pun balasan darinya. Mulai curiga. Setiap hari aku mengirim pesan kepada Mbak Mawar. Tetap saja, tidak ada satupun yang dibalas. Hingga tiba-tiba saja, tanpa sadar, aku mengirim sebuah ancaman untuknya. Setelah kukirim ancaman tersebut, tiba-tiba saja ada sebuah pesan masuk. Ternyata itu dari Mbak Hena yang katanya adalah teman Mbak Mawar. Mbak Hena bilang kalau Mbak Mawar sudah menitipkan uang kepadanya agar ditransfer kepadaku. Bahkan katanya, uang yang diberikan lebih dari yang dipinjamnya. Mbak Hena mengatakan kalau uang tersebut akan ditransfer besoknya. Besoknya, kuhubungi Mbak Hena. Sama seperti Mbak Mawar, tidak ada balasan darinya. Kesal sekali. Kuperhatikan, pola kalimat dari Mbak Hena dan Mbak Mawar sama persis. Aku yakin mereka adalah orang yang sama. Aku kemudian melakukan tindakan lanjut dengan cara meminta bantuan kepada teman seangkatan Mbak Mawar. Sungguh mengejutkan. Begitu aku menyebut namanya, mereka langsung paham maksudnya. "Maaf mas, tahu alamat rumahnya Mbak Mawar?" tanyaku. "Kenapa dek? Masalah uang, bukan?" jawabnya. Awalnya tidak kuberitahukan bahwa memang tujuanku menanyakan alamat adalah karena masalah uang. Namun kemudian beberapa dari mereka mengatakan, "sudah banyak yang jadi korbannya kok dek. Alamatnya nggak jelas. Kita dikasih, tapi ternyata itu alamat orang. Intinya, sabar ya." Antara ikhlas, sabar, dan tidak percaya. Semenjak itu, aku belajar bahwa tidak semua orang yang kita kenal baik adalah orang yang baik. Juga, tidak semua orang yang terlihat cantik, hatinya juga cantik. Kepada pembaca sekalian, lebih berhati-hatilah dalam meminjamkan uang kepada orang. Kenali si peminjam itu dengan baik. Pastikan kalian mengetahui tempat tinggal dia. Tagih terus apabila kalian mulai curiga bahwa ada unsur penipuan. Cerita di atas, semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua agar lebih berhati-hati terhadap kejahatan di dunia maya. Penipuan di dunia maya itu jauh lebih mudah untuk dilakukan dan jauh lebih susah untuk diselesaikan.

8 comments:

  1. Saya punya hutang nggak Cak? Tagih ya kalau ada... Kuatir lupa... Hehehe

    ReplyDelete
  2. Tiati, Pi...jangan gampang percaya sama siapapun

    ReplyDelete
  3. Dia engga tau kali kalau nyari uang itu susahnya bukan main

    ReplyDelete
  4. Wadaw...waspadalah...waspadalah. Kalo cerita yang pertama murni nipu, cerita kedua murni ngemplang duit eh sama ga ya? hehehehe..
    Kadang suka susah ya mas klo teman sendiri, niat nolong malang dipenthung. Hiks...terima kasih sudah berbagi kisah pilunya, dengan penutup agar selalu ikhlas dan tetap bersyukur..rezeki ga kemana. Semoga mendapat gantiyang lebih baik.

    ReplyDelete

Pages