Bertemu dengan Aak - Bakul Kopi

Bakul Kopi

Hanya penjual kopi di pinggir kali yang berusaha memperbaiki diri

Tuesday, 5 June 2018

Bertemu dengan Aak



20 Ramadan 1439 H/05 Juni 2018


Alhamdulillah, hari ini, Allah masih mengizinkan diriku untuk bertemu kembali dengan Aak, adikku yang sempat hilang kontak selama empat tahun. Sebenarnya sudah hampir satu bulan ini aku berhasil mendapatkan informasi tentang keberadaannya, namun baru hari ini diberi kesempatan untuk menemuinya.

Aak sekarang sudah kelas 3 SMP. Tubuhnya tinggi. Dia dirawat oleh keluarga dari ayahnya. Sayangnya, aku kurang suka dengan lingkungan tempat dia tinggal. Perempuan merokok, dianggap biasa saja. Lalu bagaimana dengan Aak yang kini tengah tumbuh menjadi remaja? Pertanyaan itu menghantui diriku sejak melihat tempat tinggal Aak tadi. Sampai sekarang.

Aku sebenarnya sudah menaruh rasa takut itu sejak awal melihat facebooknya. Namun, makin menjadi-jadi saat aku melihat secara langsung.

Sebenarnya hari ini aku tidak ada rencana untuk menemui Aak. Namun aku sudah terlanjur janji untuk menjemputnya, lalu mengajak pulang ke Jombang.

Dua hari lalu, tepat pukul 12 malam, Aak menghubungi diriku. Dia memintaku untuk mengajaknya pulang ke Jombang. Tanpa pikir panjang, aku langsung memesan tiket untuk dirinya. Sayangnya, tiket yang satu kereta denganku sudah habis. Akhirnya, langsung saja aku memesan dua kursi lagi agar kami bisa sekereta. Aku bisa mendengar suara bahagianya saat kuberitahu bahwa, hari Rabu kami akan ke Jombang.

Dua hari kemudian, tepat pagi tadi, sehari sebelum jadwal keberangkatan kereta, aku menemui Aak ke alamat yang telah diberikannya. Sungguh senang diri ini, akhirnya kami bisa dipertemukan lagi. 

Peperangan batin terjadi pada diriku. Seperti yang telah kukatakan, lingkungan tempat tinggalnya sangat menyedihkan. Pun demikian, mereka tetap menyambutku dengan sangat baik.

"Umi, Aak mau ikut Mas Iyan ke Jombang." Aak meminta izin ke neneknya.

Oh, aku baru tahu, ternyata selama ini dia dirawat oleh neneknya, Ibu dari ayah Aak. 

Nenek itu menjawab dengan bahasa Sunda yang setahuku artinya, "Tidak! Aak tidak boleh ke Jawa."

Mereka berdua kemudian masuk ke dalam rumah dan meninggalkanku bersama ibu-ibu yang kutaksir usianya 40 tahunan. Dia ternyata adalah kakak dari Ayah Aak.

"Namanya Iyan ya?"

"Iya, Bu." Aku menjawab dengan senyuman ringan.

"Saya kakaknya Baden." Ibu itu memberitahuku bahwa dia adalah kakak dari Baden, ayah Aak.

Dia kemudian bercerita panjang tentang Aak. Dari ceritanya yang sampai meneteskan air mata itu, aku baru tahu ternyata Aak mempunyai ibu tiri yang kurang suka terhadapnya. 

"Umi sangat sayang sama Aak. Dia nggak mau kalau ada orang yang mengambilnya. Kami telah kehilangan Aqsho. Jangan sampai kami kehilangan Aak juga. Apalagi, Iyan kan orang baru bagi kami." 

Umi adalah panggilan mereka kepada nenek yang merawat Aak. Sedangkan Aqsho adalah adik Aak yang telah meninggal.

"Aqsho anak yang baik dan ramah. Kami sangat terpukul saat dia meninggal. Kalau Iyan mau membawa Aak ke Jombang, maka itu seperti kami kehilangan Aqsho."

"Tapi saya hanya ingin membawanya selama satu atau dua minggu. Setelah itu, saya janji untuk mengantarkannya kesini lagi. Keluarga kami sangat rindu dengan Aak. Begitupun dengan Aak." Aku merayu agar mendapat izin membawa Aak.

Aak kemudian keluar dari rumah. Wajahnya tampak sangat sedih.

"Mas Iyan, Aak ora oleh melu sampeyan." Aak memberitahuku bahwa dia tidak boleh ikut bersama diriku.

Dengan sangat kecewa, aku kemudian pamit kepadanya. Tidak ada orang lain lagi. Ibu yang berbincang denganku tadi menghilang. Sepertinya masuk ke dalam rumah. Aku dan Aak saling berpeluk erat. Hari itu kami sangat bahagia karena bisa dipertemukan lagi. Namun, rasa kecewa tetap tak bisa kami hindari.

Aku sangat bahagia karena Allah masih mengizinkan diriku untuk bertemu kembali dengan Aak. Alhamdulillah. Namun tetap saja, aku kecewa karena belum bisa mempertemukan Aak dengan keluarga di rumah...

Semoga suatu saat bisa. Aamiin.




--- Seorang kakak yang telah dipertemukan dengan adiknya. ---

4 comments:

Pages