AAK, ADIKKU YANG MENGHILANG - Bakul Kopi

Bakul Kopi

Hanya penjual kopi di pinggir kali yang berusaha memperbaiki diri

Sunday, 25 March 2018

AAK, ADIKKU YANG MENGHILANG


Namanya Aak. Anak dari keponakan nenek. Usianya sekarang, mungkin, sudah 14 tahun. Terakhir aku melihatnya tahun 2013. Sepertinya, saat itu dia masih duduk di kelas 4 SD. 

Tahun 2006 pertama aku mengenal anak ini. Dia pintar, ramah, lucu, dan baik. Hanya saja, sedikit nakal. Ya, porsi anak kecil kurasa wajar.

Saat itu, kali kedua aku datang ke Jombang, setelah kehadiran pertamaku di dunia 7 tahun sebelumnya. Hari pertama aku sekolah di Jombang, seorang anak kecil berteriak sambil tertawa terbahak-bahak, 

"Gurga!!! ha ha ha..." Entah apa artinya teriakan itu. Yang jelas, wajahnya seperti mengejekku.

Sore sepulang sekolah, aku mendatangi rumahnya yang kebetulan dekat. Hanya lewat saja, karena aku penasaran apa yang dia katakan.  Tapi sepertinya dia tidak sedang di rumah.

"Eh, Mas Iyan." Seorang wanita, kira-kira usianya 30 tahun menyapaku. Iyan adalah panggilanku ketika di rumah. 

"Griyane mriki, Mbak?" tanyaku padanya.
(Rumahnya disini, Mbak?)

"Nggeh, Mas Iyan. Wonten nopo kok mriki?"
(Iya, Mas Iyan. Ada apa kok ke sini?)

Dia adalah Mbak Yuni. Keponakan dari Nenekku. Dia seorang guru bahasa Inggris. 

Tiba-tiba anak kecil yang tadi pagi berteriak mengejek, keluar dari dalam rumah.

"Niki yogane?" tanyaku.
(Ini Anaknya?)

"Nggeh, leres."
(Iya, benar.)

"Asmanipun sinten, Mbak?"
(Namanya siapa, Mbak?"

"Aak, Mas."
(Aak, Mas.)

Sore itu aku menanyakan maksud kata Gurga yang dilontarkan Aak. Ternyata, itu adalah sebuah kata yang diciptakan olehnya sendiri. Dia selalu mengatakan demikian kepada orang yang baru dilihatnya. Mungkin maksudnya adalah orang gila, orang baik, atau mungkin hewan yang menjijikkan. Hanya Allah dan Aak yang tahu.

***
Tahun 2009, tahun pertama Aak sekolah. Aku yang mengantarkannya ke sekolah, karena memang kami searah. 

"Mas Iyan, Aak lesu." Dia memberitahuku bahwa dirinya sedang lapar.

"Sampeyan dereng maem?" Aku menanyakan dia sudah makan atau belum.

"Dereng, Mas." Katanya belum.

Akhirnya uang sakuku yang sangat sedikit, kuberikan semua untuknya. 

"Iki gawe tumbas jajan ya." Aku mengatakan kepadanya bahwa uang itu untuk dia membeli makanan.

Ketika ibunya sedang ada kerjaan di rumah, maka akulah yang mengantar Aak berangkat sekolah. Kadang juga, ketika sepedaku sedang rusak, Ibu Aak yang mengantar kami berdua.

Aak tinggal bersama Ibu, Kakek dan Neneknya. Ayah Aak bekerja di Papua sejak sejak tahun 2005. Karena Ibunya seorang PNS yang menghabiskan hampir setengah harinya di tempat kerja, maka ketika di rumah, dia hanya bermain bersama Kakek dan Neneknya.

Pada tahun 2010, Ibu Aak melahirkan anak keduanya. Dia diberi nama Aqsho. Aak sudah bukan lagi anak satu-satunya. Dia adalah seorang kakak. Sejak saat itu, dia merasa kasih sayang semua orang di rumahnya berpindah kepada Aqsho.

Aak sangat menyayangi adiknya, walaupun seringkali dia cemburu atas kasih sayang keluarga yang berpindah kepada sang adik.

***

Menjelang Ramadhan 2012, Kakek Aak menderita sakit keras. Aku belum sempat menanyakan sakit yang dideritanya. Tubuhnya makin kurus. Kemana pun dia pergi, selalu ada sebotol obat-obatan di kantong bajunya.  Akhir ramadhan, dia meninggal dunia. 

Pada lebaran di tahun yang sama, Nenek Aak menderita diabetes melitus. Tubuhnya mengecil, hanya tersisa tulang dan kulit. Untuk berpindah tempat, hanya mengandalkan kursi roda yang didorong oleh Mbak Yuni, Ibu Aak. Sekitar sebulan setelah lebaran, dia meninggal dunia, ikut bersama sang suami. Akhirnya Aak hanya tinggal bersama Ibu dan Adiknya. Sedangkan sang Ayah, tak ada kabarnya.

Di tahun itu juga, Ibu Aak memutuskan untuk resign dari pekerjaannya agar fokus mengurusi kedua anaknya. Tapi malangnya, pada tahun 2012 akhir, dia mengalami sakit keras. 

Selama seminggu dia dirawat di Rumah Sakit. Aku melihat Aak dan Aqsho selalu berada di dekatnya. 

"Mas Iyan, aku titip Aak karo Aqsho ya bek menawi aku wis ora ono." Mbak Yuni berkata kepadaku bahwa dia menitipkan Aak dan Aqsho jika dia sudah tiada.

Tak ada kata yang kubalas kepadanya. Aku membayangkan bagaimana sedihnya Aak nantinya jika sang Ibu meninggal. Itu lebih sakit dari apa yang kurasakan ketika ditinggal kedua orangtuaku menjadi TKI di Arab Saudi.

Tidak ada yang tahu rencana Tuhan. Beberapa minggu setelahnya, Ibu Aak meninggal dunia. aku melihat Aak sangat sedih. Tangisannya menyayat hatiku. Dalam waktu satu tahun, dia telah ditinggal 3 orang yang sangat dicintainya menghadap sang Khalik.

Dalam hati aku bertanya-tanya, "siapa yang akan merawat Aak dan Adiknya setelah ini?"

Pertanyaanku terjawab setelah Aak dan sang adik tinggal selama sebulan di rumah keluargaku. Sang Paman yang berdomisili di Kediri kemudian mengambil Aak dan Aqsho untuk dirawatnya.

***

Pada pertengahan tahun 2013, sebuah kabar duka datang dari Papua, tempat Ayah Aak bekerja. Kabar itu menyatakan bahwa Ayah Aak meninggal dunia. Entah karena sakit, atau kecelakaan kerja, kabar itu sangat dirahasiakan.

Aak dan Aqsho telah menjadi yatim piatu. Sesekali Aak mengatakan kepadaku bahwa dia ingin ikut Ayah dan Ibunya. Aku tahu perasaannya. Dia sudah bukan lagi bayi yang belum mengerti artinya kehilangan.

Akhir tahun 2013, Paman Aak menghubungi keluargaku. Katanya, Aqsho meninggal dunia karena kejang-kejang semalaman. Aku tak sempat mengunjunginya. Semoga Allah menempatkannya di tempat yang terbaik.

***

Tahun 2014, dengan gawai pertamaku, aku mencoba menghubungi Aak di Kediri melalui pamannya.

"Aak wes gak ning kene, Mas Iyan." Paman Aak mengatakan bahwa Aak sudah tak lagi bersamanya.

"Sakniki ten pundi, Pak Lik?" (Sekarang dimana, Paman?)

Sampai saat ini, pertanyaaan itu masih belum ada balasannya. Bahkan, ketika Orangtuaku menanyakan, tidak ada jawaban juga.

***

Maret 2017, aku berada di Bogor. Ibu menghubungiku. Dia bilang, Aak berada di Sukabumi bersama kerabatnya. Kulihat peta Jawa Barat, ternyata Bogor dan Sukabumi berdempetan. Sayangnya, nomor whatsapp Aak yang diberikan keluarganya di Kediri tak pernah bisa kuhubungi.

Pernah satu kali aku hampir berhasil menghubunginya. Tetapi yang mengangkat panggilanku adalah guru Aak. Saat itu dia sedang study tour. Aku berpesan kepada gurunya agar segera menghubungiku jika Aak telah memegang handphone-nya. Tapi sampai detik ini, belum ada kabar. 

Sampai tulisan ini diposting, aku masih berusaha mencari Aak. Sebenarnya aku ingin menemuinya ke Sukabumi. Hanya saja, alamat lengkapnya belum kudapatkan.

Ingin aku posting fotonya di sini. Tapi nyatanya tidak ada. Semua hilang bersama handphone kesayanganku. Termasuk nomor Aak yang sampai saat ini belum bisa kuhubungi.

Semoga, dia dan orang-orang yang merawatnya selalu dalam lindungan Allah. Aamiin.

Bogor, 25 Maret 2018.
Seorang kakak yang merindukan adiknya...

4 comments:

  1. Ya Allah.. kasian bener ya si aak..
    Semoga mas lutfi segera dipertemukan dengan aak..

    ReplyDelete
  2. Belum adakah titik terang keberadaanya Mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah :) sudah mulai saya temukan akun fbnya mas :) namun sepertinya sudah lama tidak aktif. Sudah saya hubungi...Semoga segera ada balasan.

      Delete

Pages