Sucikah Beristinja Menggunakan Tisu Basah? - Bakul Kopi

Bakul Kopi

Hanya penjual kopi di pinggir kali yang berusaha memperbaiki diri

Wednesday, 10 January 2018

Sucikah Beristinja Menggunakan Tisu Basah?


Beberapa hari lalu ketika saya bersama teman-teman melakukan pendakian ke Malang, ada sebuah pelajaran baru yang datang saat itu.

Ceritanya adalah ketika salah seorang dari kami baru saja buang air, dia menggunakan tisu basah untuk beristinja. Ketika melakukan perjalanan panjang, maka tentu peralatan kebersihan harus kita persiapkan, dalam hal ini tisu basah mungkin adalah salah satu contohnya.

Selain praktis dan wangi, tisu basah juga bisa menghilangkan kotoran yang menempel di bagian tubuh kita. Inilah yang menjadikannya selalu dibawa dalam perjalanan jauh, termasuk pendakian.

Pertanyaannya, sucikah beristinja menggunakan tisu basah?

Jangan terlalu cepat mengambil jawaban. Mari kita ingat bersama tentang materi Istinja. Materi ini adalah materi yang saya terima dari guru-guru kami, salah satunya adalah Ust. Adhli Al Qarni saat berada di Rumah Muda.

Menurut bahasa, istinja berasal dari kata an-ninja (الِنّنْجَا), maka berarti terlepas dari penyakit an-najwu (النَّجْوُ) yang arti sesuatu yang keluar dari dubur. Sedangkan Istinja menurut istilah berarti bersuci dari buang air besar atau buang air kecil.

Istijmar (اِسْتِجْمَرٌ) adalah menghilangkan sisa buang air dengan menggunakan batu atau benda-benda yang semisalnya.

Istibra` (اِسْتِبْرَعٌ) maknanya menghabiskan, yakni menghabiskan sisa kotoran atau air seni hingga yakin sudah benar-benar keluar semua.

Air adalah benda yang digunakan untuk beristinja. Jika tidak ada air, maka boleh menggunakan batu. Lalu bagaimana jika tidak ada air dan batu? Mari kita simak penjelasan dari kitab Safinatun Najah berikut,


فَصْلٌ : شُرُوْطُ إِجْزَاءِ الْحَجَرِ ثَمَانِيَةٌ

 أنْ يَكُوْنَ بِثَلاَثةِ أَحْجَارٍ

وَأنْ يُنْقِيَ الْمَحَلَّ

وَأنْ لاَ يَجِفَّ النَجَسُ

وَأَنْ لاَ يَنْتَقِلَ

وَلاَ يَطْرَأَ عَلَيْهِ آخَرُ

وَأََّ يُجَاوِزَ صَفْحَتَهُ وَحَشَفَتَهُ

وَأَنْ لاَ يُصِيْبَهُ مَاءٌ

وَأنْ تَكُوْنَ الأَحْجَارُ طَاهِرَةً

Terjemahan
[Pasal] Syarat dianggap mencukupinya beristinja’ dengan batu: 
1. Menggunakan 3 batu 
2. Batu tersebut bisa membersihkan tempat najis
3. Najisnya belum sampai kering 
4. Najisnya tidak berpindah ke tempat lain 
5. Tidak terkena najis lain 
6. Najisnya tidak melewati lubang dubur dan ujung penis 
7. Najisnya tidak terkena air 
8. Batu yang digunakan harus batu yang suci.

Sedangkan menurut jumhur para Ulama, batu yang dimaksud bukanlah semua batu yang keluar dari dalam perut bumi. Asalkan benda tersebut memenuhi syarat batu dalam bersuci, maka boleh digunakan. Berikut adalah beberapa syarat tersebut :

1. Benda tersebut adalah kering dan padat. Maka boleh menggunakan tisu yang kering, ranting pohon kering, atau benda lainnya. Sedangkan untuk benda cair selain air yang suci, tidak sah digunakan.
2. Benda yang digunakan adalah benda suci, bukan benda najis. Maka tidak sah digunakan untuk  bersuci jika syarat pertama terpenuhi, sedangkan syarat kedua tidak. Misalkan kotoran kambing yang sudah kering, tidak sah digunakan untuk bersuci.
3. Benda tersebut bisa menghilangkan kotoran yang keluar dan menyerap. Artinya, benda seperti besi yang licin tidak bisa digunakan untuk bersuci.
4. Benda tersebut bukan benda yang terhormat atau dimuliakan, misalnya Al-Qur'an, buku pelajaran, makanan, maupun tulang. Tulang adalah salah satu contoh benda terhormat, karena termasuk makanan bangsa jin.

“Janganlah kalian beristinja’ (membersihkan kotoran pada dubur) dengan kotoran dan jangan pula dengan tulang karena keduanya merupakan bekal bagi saudara kalian dari kalangan jin.” (HR. Tirmidzi no. 18. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari penjelasan di atas tentu kita tahu bahwa tisu basah belum memenuhi syarat-syarat batu, karena tisu basah bukan benda kering. Meskipun mengandung air yang tidak najis, tetap saja tidak sah digunakan karena jumlahnya tidak mencapai 2 kulah. Jika dioleskan, maka najis akan menyebar ke sekitarnya disebabkan bebasahan tisu basah tersebut. 

Lalu apakah beristinja dengan menggunakan tisu basah bisa suci? Jawabannya adalah bisa, asalkan sebelumnya dibersihkan dahulu dengan menggunakan benda yang memenuhi syarat batu untuk bersuci, misalkan tisu kering. Kalau tidak ada tisu kering, maka boleh dengan batu atau dahan kering. Allah sudah menyiapkan semuanya agar kita gunakan dengan baik.

Wallahualam bi showab ...

4 comments:

  1. Alhamdulillaah , terimakasih atas penjelasannya yang mudah dimengerti

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga bermanfaat ya :) dari guru kami

      Delete
  2. syukron master, nambah ilmu baru

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga bermanfaat ya :) materi dari guru kami :)

      Delete

Pages