ODOP, AKU MINTA MAAF - Bakul Kopi

Bakul Kopi

Hanya penjual kopi di pinggir kali yang berusaha memperbaiki diri

Friday, 12 January 2018

ODOP, AKU MINTA MAAF



ODOP? Asing dan aneh memang jika kalian baru saja mendengarnya. Begitu juga denganku, pada awalnya. Dari handphone Bang Syaiha-lah pertama kali aku tahu nama itu. 

"One Day One Post (?) paling grup asal-asalan," pikirku saat itu.

Aku memang hanya sekilas mengintip beberapa pesan di aplikasi Whatsapp Bang Syaiha, sudah tentu bakal berpikir macam-macam terhadap sesuatu yang asing terlihat.

Beberapa hari setelah itu, aku membaca kabar tentang pendaftaran ODOP Angkatan keempat.

"Sepertinya ini bukan sembarang grup Whatsapp. Sudah ada 4 angkatan ternyata."

Aku memutuskan untuk mendaftarkan diri pada ODOP di hari itu juga. Beberapa hari setelahnya pengumuman disebar dan aku-pun berhasil masuk menjadi anggota ODOP.

Ternyata aku salah. ODOP bukan hanya sekedar grup Whatsapp seperti yang aku pikir sebelumnya. Di ODOP, kami diberikan materi-materi tentang kepenulisan. Ada banyak penulis luar biasa yang masuk ke dalam keluarga besar ODOP. 

Mereka yang konsisten menulis setiap hari, akan tetap menjadi anggota ODOP. Sedangkan yang belum, maka akan dikeluarkan darinya.

Sampai akhir program, aku masih dipercaya menjadi anggota ODOP dan mendapatkan sertifikat darinya.

Setelah kelulusan itu, kami diperintahkan untuk memilih salah satu di antara dua kelas yang diberikan. Kedua kelas itu adalah kelas fiksi dan kelas non fiksi. Aku-pun memilih kelas fiksi karena kurasa aku belum bisa membuat tulisan fiksi, walaupun yang non fiksi pun demikian.

Kedua kelas ini dilaksanakan pada pertengahan bulan Desember, tepat saat aku menjalani masa ujian akhir di Rumah Muda. Karena itulah akhirnya aku jarang mengikuti materi kelas fiksi.

Walaupun demikian, beberapa saat selalu kusempatkan untuk mengintip Rumah Kecil itu. Sampai sekarang, sudah ada sembilan tantangan yang harus dikerjakan oleh anggota di kelas fiksi. Dari sebanyak itu, aku baru mengerjakan satu tantangan. Pemalas, bukan?

Ujian akhir Rumah Muda telah selesai. Walaupun begitu, aku masih saja tidak menyelesaikan ketertinggalanku terhadap tantangan-tantangan yang telah diberikan.

Malu! Aku malu untuk mengejar ketertinggalanku terhadap tantangan-tantangan kelas fiksi. Bahkan untuk muncul ke dalam grup saja aku masih malu. Hingga akhirnya Mbak Wiwid, PJ Kelas Fiksi menanyakan kepadaku, "kemana saja kok jarang pulang ke Rumah Kecil?"

Entah apa yang harus aku jawab kepadanya. Pasrah, apapun hasilnya nanti akan aku terima. Sudah terlanjur malu, mau bagaimana lagi?

Hanya bisa minta maaf...

11 comments:

  1. Sesekali tengok rumah ya. Pintu masih terbuka lebar nih.

    Ini tulisan tantangan 9 poin 1

    ReplyDelete
  2. Wkwkwk...pulanglah, boi. Ada nasi ampok sama sambal teri. Emak masak tadi sore.

    ReplyDelete
  3. Lutfi seperti anak durhaka yang tidak mau pulang kerumah. Hahaha

    ReplyDelete
  4. Lutfi seperti anak durhaka yang tidak mau pulang kerumah. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. klo komen satu aja donk. kayak hatter aja

      Delete
  5. Wah...malah sekarang jadi pengurus ya mas.. semangat.

    ReplyDelete

Pages