Semangat Harus Ingat Keadaan - Bakul Kopi

Bakul Kopi

Hanya penjual kopi di pinggir kali yang berusaha memperbaiki diri

Wednesday, 13 December 2017

Semangat Harus Ingat Keadaan

http://i.imgur.com/OcOOE2K.png


"Ayo masuk! sudah ada Pak Agung!" teriak salah seorang teman sekelas kami bernama Riki dari depan masjid sekolah.

Pagi itu aku baru saja tiba di sekolah. Duduk istirahat sebentar pada bangku kecil yang berada di depan parkiran sekolah sambil mengusap keringat tubuhku. Lelah, setiap hari aku harus merasakan itu.

Aku berlari menuju kelas, meninggalkan parkiran sekolah yang terletak di ujung belakang sebelah kantin. Suara murrotal mulai terdengar, tanda bahwa jam pelajaran telah dimulai. Semua siswa berlarian karena ketakutan mendapat hukuman. Mengepel seluruh lantai di sekolah adalah hukuman terakhir yang aku dapatkan dua hari yang lalu.

"Mati aku! Sepertinya dapat hukuman lagi hari ini," cemasku.

Kelasku terletak di bagian paling depan samping ruang Kepala Sekolah. Bukan, bukan di samping, tapi di lantai atasnya. 

Sebenarnya aku bisa berangkat lebih pagi. Bahkan sebelum satu pun siswa yang berangkat, aku sudah siap rapi. Hanya saja karena harus naik sepeda onthel, aku harus telat hampir tiap hari. Ada janji yang telah aku berikan kepada Bapak.

"Aku tidak mau ke pesantren, Pak. Aku janji tidak akan minta uang saku untuk sekolah," rayuku saat Bapak menyuruh ke Pesantren dulu.

"Caranya?"

"Ngonthel tiap hari!" jawabku dengan nada kesal.

Bapak mengiyakan jawabanku. Sebenarnya menyesal juga aku memberikan janji itu. Hanya saja, aku selalu teringat dengan kondisi ekonomi keluarga. Cuma itu yang bisa kuberikan untuk meringankannya.

Enam siswa berdiri di tengah lapangan. Aku yakin itu adalah barisan anak yang telat berangkat sekolah. Ini kali ketiga dalam seminggu aku menerima hukuman karena telat. 

Bu Herwin, guru kedisiplinan kami di sekolah datang dan berkata, "Dasar pemalas! karena sudah berkali-kali diingatkan, maka hari ini kalian dianggap tidak masuk sekolah. Bersihkan semua sampah di setiap sudut sekolah!"

Hukuman itu adalah kejadian kemarin pagi. Hari ini aku tak mau lagi terlambat berangkat sekolah. Pagi jam 4 setelah shubuh aku segera menuju kamar mandi. Suara keran semakin membuatku semangat untuk berangkat lebih pagi.

"Sarapan di sekolah saja, jangan telat lagi hari ini." Kata Om Iwang yang pagi itu menyiapkan sepedaku.

Pukul lima aku bergegas meninggalkan rumah menuju sekolah. Setiap hari aku harus menyeberangi sungai besar dengan menaiki perahu di tambangan yang berada di perbatasan kota. Tambangan adalah pelabuhan kecil yang berada di sungai.

"Pak Darman masih ada di seberang. Bisa-bisa telat lagi aku," gerutuku.

Perasaanku sedikit lega setelah melihat Pak Darman, nahkoda perahu di tempat kami memanggilku. Perahunya baru saja sampai di tepi sungai tempat aku berdiri.

"Ayo, Yan. Mumpung masih sepi."

Dia menepikan perahunya. Melempar tali tambang ke atas tiang yang telah disiapkan untuk menahannya.

"Kamu tidak ada pelajaran hari ini?" tanyanya.

"Ada kok pak. Kalau tidak ada pelajaran, lebih baik tidak sekolah." Jawabku.

"Oh, buku kamu ada di kelas semua ya?" tanyanya lagi.

"Tidak juga. Ini bukuku, Pak." Kataku sambil meraba punggung belakang.

Tiba-tiba wajahku ketakutan saat meraba punggung. Bukan karena ada darah atau nanah. Ada sesuatu yang berbeda. Padahal biasanya tidak seperti ini.

"Astaga! tas ku ketinggalan di rumah!"

"Makanya tadi Pak Man tanya ke kamu. Pak Man kira, tidak ada pelajaran."

Segera aku kembali ke rumah untuk mengambil tas. Jarak tambangan ke rumahku sekitar 7 Km. Butuh hampir 14 menit untuk kembali ke rumah. Antara keringat ketakutan dengan keringat kekesalan, keduanya berlomba membasahi mukaku.

"Assalamualaikum," teriakku dari depan rumah.

"Kok pulang yan?" tanya Om Iwang.

"Tas di depan pintu dimana ya Om?" tanyaku.

"Oh, tadi sudah diantar kakak kamu ke sekolah. Sudah dari tadi, tidak ketemu di jalan?"

Tanpa menjawab panjang lebar, aku bergegas meninggalkan rumah. Kulihat sudah jam 6. Rasanya sia-sia hari itu aku bangun pagi, sama saja. Nanti pasti telat lagi.

Entah hukuman apa lagi yang akan ku terima setelah ini. Mungkin dikeluarkan dari sekolah, bukan urusanku. Lagi pula kalau aku dikeluarkan, masih ada warung kopi pinggir kali punya Bapak yang bisa aku jaga. 

Tak tampak satupun aku melihat bocah berangkat sekolah pagi itu. Itu membuat aku semakin merasa cemas. 

"Apa yang harus aku katakan ke Bapak kalau nanti akhirnya dikeluarkan?" 

Bili, teman sekelasku lewat dengan motor vespanya. Wajahnya tampak santai.

"Yan, kamu sekolah?"

"Kamu tidak masuk, Bil?" tanyaku padanya.

"Jujur, aku sangat kagum sama kamu. Semangatmu untuk sekolah sangat tinggi." Katanya memujiku.

"Tapi kok wajahmu seperti mengejek, Bil?"

"Coba kamu lihat kalender di handphone." 

Kuambil handphone kecilku di kantong celana. Membuka pola kunci dan kalender.

"Astaga! ternyata ini hari minggu?"

Senang, malu, kesal, kecewa, semua bercampur menjadi satu saat itu. Aku senang dan bahagia karena tidak akan ada hukuman telat untukku. Tapi rasa kesal membuatku lupa dengan hal yang membahagiakan itu.

Kejadian ini membuatku sadar bahwa tidak selamanya semangat yang penuh perjuangan itu membuahkan hasil. Ternyata untuk bersikap sesuatu, kita harus melihat situasi dan kondisi terlebih dahulu.


21 comments:

  1. kurang aqua, hahaha..

    Keren keren

    ReplyDelete
  2. Runut Dan jelas tulisannya...

    ReplyDelete
  3. rajin ya hari minggu mau sekolah hahaha

    ReplyDelete
  4. Kalo saya malah hari senin susah bangun berasa masih hari minggu.. hehehe
    Keren tulisannya :)

    ReplyDelete
  5. Itu bukan karena kebanyakan micin kan mas? πŸ˜‚

    Oiya, ada typo 'bersihakan' dan kata asing ditulis miring yaa, salamnya belum ditulis miring. Kata vespa ada di KBBI. Berarti ndak ditulis miring

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh, saya kira vespa itu merk mbak wkwk...makasih ya

      Delete
  6. Kasian amat sih tuh bocah, udah capek taunya zonk.
    Mungkin terlalu keasikan sama malming ya, jadi nglindur sampai pagi.

    ReplyDelete
  7. Hari Minggu? Wkwk...

    Oya, penulisan kalimat langsung:
    "Mati aku! sepertinya dapat hukuman lagi hari ini." Cemasku.
    Perbarui ya:
    "Mati aku! Sepertinya dapat hukuman lagi hari ini," cemasku.

    ReplyDelete
  8. Hahaha saking semangatnya, makanya kalo pagi jangan lupa sarapan wkwk

    ReplyDelete
  9. Bagus tu idenya .....kyk mimpi

    ReplyDelete
  10. Om nya koq ndak bilang kalau hari Minggu? πŸ˜‚

    Lucu ceritanya. Nice πŸ‘

    ReplyDelete
  11. Awalnya ngerasa kasian, lah kok endingnyaπŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
  12. Haha, ceritanya lucuu endingnya

    ReplyDelete

Pages