NULIS BIOGRAFI SENDIRI - Bakul Kopi

Bakul Kopi

Hanya penjual kopi di pinggir kali yang berusaha memperbaiki diri

Tuesday, 7 November 2017

NULIS BIOGRAFI SENDIRI


Namaku Lutfi Yulianto, panggil saja Lutfi. Tapi entahlah, orangtua memanggilku Iyan. Beberapa teman memanggil Fian, kadang juga Piyun, ada yang Pintung, bahkan Anang. Nama Anang kudapat saat kelas XI, karena katanya wajahku mirip dengan senior OSIS di sekolah yang bernama Anang. 

Lebih lucu lagi waktu kelas X aku dipanggil 'Bang Rhoma'. Mungkin karena aku dulu sering menjadikan kelas sebagai lapangan konser dangdut ala Soneta. Dan, nama yang saat ini sedang kusandang adalah panggilan "Lontong". Mungkin karena aku suka dengan Cak Lontong, sehingga teman-teman di Bogor memanggilku demikian. Dari semua panggilan itu kalian boleh memanggilku Cak Lut, supaya terkesan akrab saja, sih.

Aku lahir di Jombang, tepatnya pada 28 Juli 1999. Aku memulai pendidikanku di RA Nahdlatul Ulama Al-Hikmah Semarang, kemudian melanjutkan ke MI Nahdhatul Ulama Al-Hikmah Semarang. Ketika MI, aku sempat belajar di Pondok Pesantren NU Nurul Huda Semarang. Pada tahun 2006 melanjutkan pendidikan dasar di SDN Karangmojo 1 Jombang. Lalu pada tahun 2010, aku lulus dan melanjutkan pendidikan ke MTs Negeri Tembelang, dan kuakhiri  pada tahun 2016 di MA Negeri 1 Jombang.


Sudah Merantau Sejak Lahir
Konon ceritanya, kedua orangtuaku sejak lulus SMA memang suka merantau. Dari perantauan itulah mereka dipertemukan dan kemudian menikah. Ibuku asli dari Jombang. Sedang Bapakku asli dari Semarang. Sampit adalah awal pertemuan mereka. Di tempat kerja itu mereka berkenalan.

Setelah berbulan-bulan bekerja di tempat yang sama, akhirnya timbul rasa yang berbeda di antara mereka. Rasa apakah itu? Baca lebih lanjut, makanya!

Ketika sedang timbul rasa itu, bapakku ditugaskan untuk bekerja ke luar negeri. Saat ditinggal itu, katanya sih, ibuku tidak mau makan berminggu-minggu. Lebay sih memang, tapi begitulah cinta. Iya, kan?

Ibuku kemudian ditawari ikut temannya untuk bekerja ke tempat dengan bayaran yang lebih besar di Malaysia. Akhirnya, berangkat lah Ibuku ke Malaysia.

Tanpa direncanakan, ternyata ibu dan bapak dipertemukan di negeri jiran itu. Luar biasanya lagi, mereka bekerja di satu tempat yang sama. Padahal, waktu itu mereka belum punya handphone

Sebelum berpisah lagi, mereka akhirnya menikah disana. Setahun kemudian, tepatnya pada pertengahan tahun 1997, lahirlah kakak laki-lakiku yang diberi nama Chusnul Latif. Dan, pada pertengahan tahun 1999 lahirlah seorang bayi laki-laki yang diberi nama Lutfi Yulianto. Padahal ibuku sudah menyiapkan baju-baju perempuan untuk anaknya. Duh, untungnya aku punya kakak laki-laki. Jadi beberapa baju bayinya diberikan padaku.

Belum genap setahun, kami lalu dibawa ke Sampit. Alasannya karena Sampit adalah tempat bersejarah bagi mereka berdua. So sweet sih memang pengantin baru ini. Sudah banyak kerabat juga disana, tetangga juga ramah-ramah.


Hampir Jadi Korban Perang Sampit
Sampit memang tempat yang bersejarah bagi orangtuaku. Tapi itu hanya sampai awal tahun 2001, sebelum Perang Sampit terjadi. Sampit yang aman dan tentram tiba-tiba saja berubah menjadi tempat peperangan yang kejam.

Saat awal perang itu terjadi, Bapak dan Ibu sedang bekerja dan menitipkanku pada seorang kerabat dekatnya. Aku dibawa lari olehnya ke tempat yang lebih aman. 

Beberapa kejadian pada perang itu masih terekam jelas olehku hingga saat ini. Bahkan aku sering bercerita kepada ibuku tentang seorang ibu hamil yang dibelah perutnya. Kata ibu, itu mereka tidak pernah sholat ke masjid, makanya perutnya dibelah. Itu sih cerita versi ketika aku masih kecil. Makanya deh, aku jadi sering sholat, karena takut perutnya dibelah.

Tak selang sebulan dari peristiwa mengenaskan itu, kami akhirnya kembali ke kampung halaman Bapak di Semarang.


Tidak Punya Akta Kelahiran karena Lahir di luar Nikah!
Akta kelahiran memang sangat penting bagi setiap warga negara. Hanya saja, aku tidak memiliki berkas berharga itu. Bukan karena malas mengurus atau apa, tapi susah mengurusnya, percayalah!

Tahun 1996 kedua orang tuaku menikah secara resmi di Malaysia. Namun pada tahun 2002, akta kelahiranku dan kakakku tidak bisa dibuat. Alasannya karena status bapak dan ibu belum menikah secara resmi di Indonesia. Di tahun itu juga, mereka menikah resmi secara Indonesia. Jadi, secara hukum, mereka menikah pada tahun 2002. Aku lahir tahun 1999, kakakku lahir tahun 1997, artinya kami mendapat status lahir di luar nikah. Hemmmm .... apaan deh. Aneh memang!

Akta kelahiran selalu menjadi persyaratan utama dalam setiap pendaftaran kegiatan. Baik pendaftaran sekolah, kuliah, bahkan bekerja. Aku sering terancam tidak diterima oleh sekolah hanya karena kurang persyaratan.



Anak TKI Berubah Menjadi Anak Penjual Kopi
Orangtuaku berangkat ke Arab Saudi pada tahun 2003 untuk menjadi TKI. Pada tahun 2013 kalau tidak salah, bapak ibuku pulang ke Indonesia. Tapi uang yang mereka dapat tidak cukup untuk menghidupi kami. Tempat tinggal saja masih numpang di rumah kakek, sudah tentu penghasilan harus dibagi-bagi.

Selang setengah tahunan, bapak kemudian menyewa warung kecil di pinggiran kali Brantas. Dia memutuskan untuk menjadi penjual kopi, rokok dan makanan ringan lainnya. Pendapatan penjual kopi memang tak lebih banyak dari pendapatan TKI, tapi itu cukup untuk memberi makan kami tiga kali sehari. Biaya sekolah tergantung prestasi yang kami saat sekolah. Itulah sebabnya kakakku kemudian putus sekolah sebelum lulus SMA karena tidak mendapat bantuan pendidikan dari sekolah.

Walaupun sering mbolos, prestasi akademik dan non akademik masih sempat aku dapat. Walaupun tidak seberapa, tapi cukup untuk menolongku dari kata Drop Out. 


Sekolah Hanya Bermodal Doa dan Semangat
Ketika SMP, aku selalu berkeinginan untuk bisa bersekolah ke SMA Favorit di Jombang. Hanya saja, harapan itu pupus setelah bapakku tau mengenai itu. Dia selalu menyuruh anak-anaknya untuk melanjutkan sekolah di madrasah, bukan SMA umum. 

Dengan segala cara aku merayu bapak agar mengizinkanku sekolah di SMA Favorit tadi. "Kalau begitu aku mau sekolah di madrasah, tapi yang di kota. Aku juga maunya naik sepeda onthel." Dengan santainya bapak mengiyakan itu. Waduh! Senjata makan tuan kalau seperti ini.

Karena sudah berjanji, akhirnya aku mendaftarkan diri ke MAN (Madrasah Aliyah Negeri) yang merupakan tingkat pendidikan SMA berbasis islam. 

Jarak sekolah dari rumahku sekitar 15 km, dan itu aku tempuh dengan menggunakan sepeda onthel selama satu jam. Setiap pagi aku berangkat bersama teman-temanku, naik perahu tua menyeberangi sungai Brantas yang cukup lebat arusnya, melewati kawasan sawah yang tiap sore selalu sepi, dan melewati jalan yang ayam saja tidak berani mendatanginya.

Pertama kali aku mengenal HP android adalah saat SMA. Hampir semua temanku sudah memilikinya. Setiap aku bergaul bersama mereka, pasti timbul sebuah rasa yang berbeda. Malu! HPku hanya Nokia N70 pemberian ibu saat pulang dari Arab. Itu saja harus dibagi berdua dengan kakakku. Hari senin sampai rabu aku yang pakai, sedangkan sisanya giliran kakakku.

Aku yang masih belum mengerti susahnya mencari uang, dengan santainya meminta kepada kakak untuk membelikanku android. Entah uang darimana, akhirnya dia memenuhi permintaanku itu. Oh iya, waktu itu kakakku sudah bekerja. Karena selulus MTs, dia memutuskan untuk tidak lanjut sekolah. Dia memilih kerja untuk menyambung hidup.

Aku jarang memakai sepatu saat sekolah. Bukan karena tidak mau mematuhi peraturan, hanya saja sudah menjadi kebiasaanku tidak memakai alas kaki saat di rumah. Kebiasaan itu berakhir setelah aku menjadi ketua OSIS. Aku sadar, menjadi ketua OSIS artinya menjadi top center di sekolah. Semua yang aku lakukan sudah pasti diperhatikan oleh semua warga sekolah, baik itu siswa, guru, bahkan penjaga sekolah.

Biaya SPP sekolahku terbantu oleh peringkat di kelas. Itu bisa membantu orang tuaku agar tidak memikirkan biaya sekolah. Tapi mereka masih berkewajiban memberiku uang saku untuk sekolah, kata mereka. Uang saku itu aku kumpulkan setiap hari, jadi ketika prestasiku turun maka uang itu yang aku gunakan untuk membayar SPP.


Sudah Tercapai Kuliah di Kota Impian, Tapi Akhirnya Putus
Ketika SMA, aku selalu berkeinginan untuk bisa kuliah di Semarang. Tujuannya agar bisa kembali berkumpul dengan keluarga disana. Doa itu akhirnya dikabulkan oleh Allah. 

Saat pendaftaran SPAN-PTKIN, yakni pendaftaran masuk ke Perguruan Tinggi Islam melalui jalur undangan, aku mencoba untuk daftar ke Semarang. Jurusan yang aku ambil adalah Matematika. Tetapi salah seorang temanku memilih jurusan itu juga. Katanya, kalau dari satu sekolah tidak bisa masuk ke jurusan dan kampus yang sama. Itu artinya salah satu dari kami ada yang diterima dan salah satunya tidak, atau kedua-duanya tidak diterima.

Mengetahui hal itu, aku mengubah jurusan pilihanku. Jurusan yang kupilih akhirnya Fisika. Yang aku fikirkan saat itu bukanlah jurusannya, tapi tempatnya.

Beberapa minggu kemudian, pengumuman keluar. Kulihat ternyata aku lolos. Betapa senangnya aku mengetahui itu.

Setelah masuk, semangatku untuk kuliah tiba-tiba hilang ketika melihat besar UKT (SPP) yang aku dapat. Akhirnya aku mendaftar beasiswa di kampus, tetapi Allah belum mengizinkanku untuk menerima beasiswa itu. Aku gagal di tahap wawancara. Mungkin belum rejekinya...

Aku masih belum punya KTP, untuk mencari pekerjaan agar bisa membiayai kuliah sangatlah susah. Tetapi kemudian aku bertemu dengan seorang senior dan mengajakku untuk mengajar di sebuah bimbel. Uang bayaran itu cukup untuk membiayai makanku sehari-hari, bukan UKT.

Setelah berdoa kepada Allah, akhirnya aku memutuskan untuk tidak lanjut kuliah karena aku yakin kuliah bukan satu-satunya jalan menuju sukses.


Bersyukur Masuk ke Rumah Muda
Setelah putus dari kuliah, di waktu yang berdekatan aku mendaftarkan diri ke sebuah pendidikan non formal bernama Rumah Muda. Lama kegiatan itu adalah setahun. Setelahnya, para peserta di Rumah Muda diharapkan bisa hidup mandiri dan berkarakter. Tentu itulah yang menjadi sekolah impian semua orang.

Awalnya, aku tertarik pada program di Rumah Muda karena GRATIS. Serius! Program di Rumah Muda memang gratis. Padahal dipinjami laptop, dapat Wi-Fi gratis, makan 3 kali sehari, tapi tetap saja gratis. Semuanya ditanggung pengelola dan para donatur.

Aku sangat bersyukur bisa ikut program luar biasa ini. Banyak sekali ilmu yang kudapat. Aku pertama bisa desain di Rumah Muda, pertama tahu cara pakai mesin cuci juga di Rumah Muda. Walaupun masih kecil, tapi aku rasa ini adalah lembaga yang sangat istimewa. Aku harap, lembaga ini bisa menjadi contoh untuk lembaga-lembaga lainnya. Semoga ke depannya, aku bisa membangun lembaga yang seperti ini di kampung halaman, Aamiin....


#TantanganODOP

42 comments:

  1. Wow..super sekali perjalanan hidupmu lutfi

    ReplyDelete
  2. mantap sekali dirimu anak muda. semoga sukses dimasa hadapan. apalagi di bimbing Bang Syaiha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
  3. sungguh menginspirasi

    ReplyDelete
  4. Sangat memotivasi .... mantap

    ReplyDelete
  5. Keren dan baru baca aku...

    ReplyDelete
  6. Superrr semangat dan perjuangannya

    ReplyDelete
  7. Replies
    1. bener, butuh bertahun-tahun buat bikin drama ini... :D

      Delete
  8. baru tau kisah hebat super mega giga ultramu fi..
    semoga pengalaman-pengalaman itu menjadi pemutar turbin untuk kesuksesanmu di masa depan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, terima kasih doanya brother :) semoga kita selalu diberi kesuksesan oleh Allah :)

      Delete
  9. Masya Allah...
    G tau mau ngomong apa, tapi keren sih.

    ReplyDelete
  10. Hebat. Semangat menghadapi hidup

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kita senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan dalam menjalani hidup ya :)

      Delete
  11. Baru baca inii! Keren banget ternyata perjalanan hidupmu Fi, salut! Semoga bisa jadi the next Dahlan Iskan, Chairul Tanjung, B.J. Habibie dan semua orang besar lainnya yang suksesnya bukan warisan tapi buah perjuangan, sukses selalu upii πŸ’ͺπŸ’ͺ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal pengennya jadi the next jokowi mbak :D

      Delete
  12. Awal2nya lucu, hbis itu sedih, trus jadi semangat. Keren bgt Cak :')

    ReplyDelete
  13. Keren, bro. Anda memang super MANTUL

    ReplyDelete
  14. Keren mas Iyan yang baik hati dan selalu semangat. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan bagimu untuk menggapai mimpi dan semakin bermanfaat bagi orang lain 😊

    ReplyDelete
  15. Ahhh... Sedih banget😩😩😩

    ReplyDelete
  16. Hmmm, itulah hidup,lebih 'Wah' dari fiksi ... Semangaaattt πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih tampak imajinasi dari sebuah imajinasi ... begitu dong

      Delete
  17. Salam kenal , saya peserta odop 7

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal, Mbk ... selamat bergabung, semoga lolos sampai akhir seleksi ...

      Delete
  18. Mas Lutfi, saya dari grup London. Blognya mas Lutfi pake web.id ya ? Itu bagaimana cara buatnya ?

    ReplyDelete
  19. Super sekali mas.. #Salam kenal dr grup adelaide..

    ReplyDelete

Pages