ADA APA DENGAN BAPAK? - Bakul Kopi

Bakul Kopi

Hanya penjual kopi di pinggir kali yang berusaha memperbaiki diri

Monday, 25 September 2017

ADA APA DENGAN BAPAK?

Sumber : Google

Aku adalah seorang anak yang sejak kecil ditinggal orang tuanya merantau jauh. Awal aku masuk di bangku sekolah, kedua orang tuaku meninggalkan aku dan kakakku ke Arab Saudi. Baginya, masa depan anak-anaknya adalah hal yang paling penting sehingga sampai jauh disanapun akan didatangi.

Tahun 2003, aku masuk RA atau yang lebih dikenal adalah TK(Taman Kanak-kanak). RA adalah singkatan dari Raudlatul Athfal yang merupakan tingkat pendidikan kanak-kanak berbasis islam.

Hanya setahun aku menyelesaikan pendidikan kanak-kanak. Tahun 2004, oleh pakdhe aku didaftarkan ke MI (Madrasah Ibtidaiyah) atau merupakan tingkat pendidikan setara SD tapi berbasis islam. Di MI, aku merupakan siswa yang cukup berprestasi. Selama di MI, aku selalu mendapat peringkat pertama. Bahkan ketika kelulusan, namaku tersebut dalam 5 siswa terbaik seangkatan.

Setelah 6 tahun menempuh pendidikan dasar, aku berniat mendaftarkan diriku ke SMP Favorit di Jombang. Nilai Ujian Akhirku cukup baik untuk dinyatakan lolos masuk ke SMP itu. Tapi ternyata, Bapakku menyuruh aku untuk mendaftar sekolah ke MTs (Madrasah Tsanawiyah) yang merupakan tingkat pendidikan setara SMP tapi berbasis islam. Padahal mimpiku adalah masuk ke SMP Negeri Favorit. Dengan terpaksa, aku menuruti keinginan bapakku.

"Bapakmu sudah jauh-jauh pergi ke Arab untuk membiayai sekolah kamu. Jadi mau nggak mau kamu harus nurut sama dia." Kata Kakekku.

Namanya terpaksa, tentu mendapat kata nyaman di sekolah adalah hal yang sangat sulit. Di sekolah, aku terkenal sebagai siswa yang suka telat bahkan mungkin mereka juga mengenalku sebagai siswa paling tidak disiplin.

Walaupun begitu, aku masih merupakan siswa yang berprestasi di sekolah. Bahkan aku terpilih sebagai Ketua OSIS saat MTs. Padahal, Masa Orientasi yang harusnya wajib bagi siswa barupun aku absen. Saat itu aku merasa bahwa aku adalah anak yang pintar  secara takdir. Tanpa belajarpun aku masih selalu mendapat penghargaan sebagai 3 siswa terbaik seangkatan. Tapi aku terlalu sombong, sehingga saat acara kelulusan namaku tidak tersebut pada tiga siswa terbaik itu. Namaku hanya tertulis di posisi keempat. Walaupun begitu, nilai Ujian Akhirku bisa dibilang cukup baik.

Beberapa bulan sebelum acara kelulusan itu, kedua orang tuaku pulang ke Jombang. Mereka berhenti bekerja sebagai TKI di Arab Saudi. Mereka membuka sebuah warung kopi di pinggir jalan untuk menghidupi keluarga kami.

Dengan nilai Ujian Akhir yang sangat tinggi tadi, aku berniat mendaftarkan diri ke SMA Negeri favorit di Jombang. Betapa gembiranya aku setelah kulihat namaku lolos masuk ke SMA itu. Tapi kegembiraan itu hilang ketika aku mengabarkannya ke Orang tuaku. Bapak marah besar kepadaku setelah tau itu. Lagi-lagi dia menyuruhku untuk mendaftar ke sekolah yang berbasis islam. Akhirnya aku bersiasat untuk daftar ke MA Negeri yang berada jauh di kota agar Bapak merasa kasihan jika aku berangkat dengan mengayuh sepeda 15 km setiap hari.

"Baiklah, bapak mengizinkanmu sekolah di kota. Tapi kamu harus hati-hati ya kalau berangkat. Dan kamu nggak usah malu karena cuma membawa sepeda onthel, sementara teman-temanmu naik motor dan diantar mobil. Suatu saat nanti pasti akan ada hikmahnya." Kata Bapakku.

Bukannya kasihan dan akhirnya membatalkan niatnya untuk menyuruhku sekolah di MA (Madrasah Aliyah), tapi dia justru malah mengucapkan hati-hati kepadaku.

Sama seperti saat di MTs, karena aku terpaksa jadi ketika sekolah aku hanya berangkat ala kadarnya siswa sekolah saja. Tapi lagi-lagi aku mandapat amanah untuk menjadi ketua Osis. Walaupun begitu, karakter nakalku susah untuk kuhapus. Aku masih saja suka bolos dan telat berangkat sekolah. Aku lebih sering menghabiskan waktuku di kantin daripada di kelas. Sehingga banyak sekali yang memberiku gelar sebagai ketua Osis paling tidak disiplin.

Tiap kali aku berangkat sekolah sambil mengayuh sepeda, aku selalu berfikir apakah aku ini anak kandung bapakku atau bukan. Ada apa dengan bapakku, kok kelihatannya dia selalu menentang apa yang aku inginkan. Padahal apa salahnya aku sekolah di SMA.

Semua pertanyaan itu ternyata terbalas saat ini ketika aku masuk ke Pesantren Rumah Muda Indonesia. Disini aku melihat kehidupan santri yang sebenarnya. Kebanyakan santri disana adalah lulusan pesantren dulunya. Sehingga tiap kali ada pembahasan tentang islam, mereka langsung paham. Walaupun hampir 12 tahun aku sekolah di Madrasah, tapi kurasa banyak sekali ilmu yang kusia-siakan. Ketika aku melihat teman-temanku di Rumah Muda, aku merasa bahwa ilmu agamaku ini masih sangat dangkal. 

Sekarang aku tau maksud Bapakku ingin menyekolahkanku di Madasah. Ternyata dia ingin agar anak-anaknya tau tentang islam bukan dari KTPnya saja. Melainkan beserta seluk beluknya. 12 tahun menempuh pendidikan di madrasah adalah hal yang sangat luar biasa bagiku. Karena Madrasah, aku bisa lebih tau tentang islam yang sebenranya walaupun tidak terlalu jauh. Dengan sekolah di Madrasah, aku menjadi semakin yakin bahwa mbolos bukanlah jawaban terbaik bagi siswa untuk malampiaskan kekesalannya terhadap pelajaran di sekolah.

14 comments:

  1. Tau gak? Kira aku Kak Lutfi emang anak angkat hahaha..
    Bcanda. Tapi, kalau soal kenakalan, anak nakal emang cenderung pintar dan lebih berani menghadapi segala resiko. Lain ama aku yang pendiem dan nurut-nurut. Akhirnya malah penakut. Itu positifnya anak nakal, menurutku. Wkwkwk.
    Dan terkait rumah pemuda itu, boleh dong bagi-bagi ilmunya nanti. ^^v
    Semangat terus ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh :v ya kalo punya kerabat cowok boleh gabung sama kami ikut Rumah Muda :D gabung sama kami belajar bareng :)

      Delete
  2. mantap, sukses selalu mas lutfi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ohoho makasih mas :D semoga ke depannya makin baik dan lancar

      Delete
  3. ini nih namanya anak berbakti, walaupun terpaksa hehe....justru kayak gini yang harus dapat jempol

    ReplyDelete
  4. InsyaAllah orangtua selalu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kita tau itu :') tapi mungkin kita telat menyadarinya :') begitupun saya

      Delete
  5. Nggak nyangka, bagus juga tulisanmu Cak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. pake laptop bang....kalo nulis sendiri jelek :D

      Delete
  6. jadi pingin nangis. nangis dulu aaah...

    ReplyDelete
  7. wow,, keren cak.. penuh inspirasi tulisannya

    ReplyDelete

Pages